Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Oktober 2012

Hut Kemerdekaan RI, Desa Sukadana Adakan Motor Cross

SUBANG, Jabarkita.- Dalam rangka merayakan HUT. RI. Ke 67, Tahun 2012, Karang Taruna Bina Karya,Desa Sukadana, Kecamatan Compreng Kabupaten Subang,  Minggu,(2/9/2012)menyelenggarakan adu ketangkasan mengendarai speda motor  (motor cros) di alun-alun desa setempat.
Berdasarkan pemantauan Jabarkita dilokasi, nampak masyarakat desa setempat nampak antusias sekali mendukung, event tersebut.Itu terbukti tua-muda berbondong-bondong  datang untuk menyaksikan  pentas  yang  merupakan kali pertama kali diadakan.
Para penonton yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut bakan saja datang dari wilayah Compreng saja melainkan datang juga dari luar kabupaten Subang seperi dari Indramayu, demikian juga untuk peserta lomba motor cross tersebut.
Kepala Desa Sukadana Runata kepada Jabarkita mengungkapkan kegiatan ini cukup positif dilaksananakan Karang Taruna Desa, hal ini dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 67 Tingkat Desa Sukadana.
Lomba adu ketangkasan mengendarai  speda motor tersebut peserta awalnya hanya diperuntukan bagi khusus  masyarakat yang ada di kecamatan compreng.  ternyata penggemar motor cros yang ada diwilayah Kabupaten Indramayu juga tidak mau ketinggalan untuk mengikuti acara adu ketangkasan tersebut,ujar Runata.
Sodikin (19) salah satu peserta motor cros  asal penduduk Desa Tumaris kecamatan Haurgelis kab. Indramayu. Disela-sela hiruk pikuk dan bisingnya suara kenalpot, kepada jabar kita menuturkan bahwa Saya tahu dari teman kalau disini ada  lomba motor cros.ujarnya.
Sementara Ketua Karang Taruna Bina Karya Ahmadi.melalui wakil ketuanya Suhali  menjelaskan  bahwa jenis yang diperlombakan ada 5 kriteria diantaranya. 1. Jenis Bebek lokal, 2. FFA open, 3. Bebek Standar Pemula, 4. Standar lokal Campion, dan 5. FFA. Lokal Compreng.
Selain itu lomba ini di ikuti sedikitnya ada 120 peserta.Sedangkan  juara  faporitnya  diraih Hendra Akso (19) dari  peserta utusan tuan rumah. Peserta termuda adalah Yono (9) yang baru duduk  dibangku sekolah kelas  6 utusan dari Dusun Sukamulya,berada di kelas exsibisi.
Dengan diselenggarakanya lomba ini panitia kedepan berharap mereka  tidak lagi ugal-ugalan dijalan seperti Geng motor  dan lomba adu nyali ini semoga dijadikan ajang silaturrohim  bagi semua pecandu yang ada di kabupaten subang.
Panitia berharap kepada semua pihak, untuk memberikan dukunganya karena kegiatan ini sangat positif, katanya. (ita.g/adang).

Senin, 15 Oktober 2012

Kenal Lebih Dekat Irwan Ardiansyah Motocross Academy

 
RODA-roda itu menggaruki tanah, raungan suara mesin itu melompati gundukan-gundukan yang dibangun di sirkuit milik pribadi seluas 1.5 hektar tersebut. Begitulah suasana yang terlihat di Irwan Ardiansyah Motocross Academy (IAMA) yang terletak di Jalan Parangtritis, Km 4.5, Yogyakarta setiap menjelang sore. Olahraga motocross di Yogyakarta, khususnya, menunjukkan perkembangan yang pesat, terutama setelah sekolah balap khusus motocross yang dikelola oleh crosser profesional yang telah mencetak banyak sekali prestasi. 

Sebenarnya Motocross di Yogyakarta sudah marak sejak tahun 1992-an. Irwan Ardiansyah bisa dibilang sebagai pionernya, dia lah sosok yang selama ini konsisten bergelut di dunia balap motor. Beragam prestasi telah diraihnya baik nasional maupun internasional, di antaranya, Juara Nasional Motocross sejak 1996 hingga 2002. Prestasi pertama pria yang akrab disapa Dian ini adalah menjadi Juara Umum Motorcross Pemula 125 cc Seri Brawijaya pada tahun 1993, dilanjutkan dengan Juara Nasional Runner Up Road Race 2 Tak 110 cc Region II, Meraih 2 medali emas, 1 medali perak dan 1 medali perunggu PON XVI Sekayu (2004), hingga banyak lagi prestasi di bidang Road Race. 

Sedangkan untuk Internasional, Dian memulai prestasinya di tahun 1995, menjadi Juara III Pemula 250 cc GFI Winter Series LACR California, Amerika Serikat, Peringkat VII 125 cc KTM Supercross Perth Australia (1996), Juara IV FIM Asia Supercross Medan (2001), hingga Peringkat IV FIM Asia Supercross (2002).

Setelah pensiun dari balapan nasional motocross yang memberikannya 7 gelar nasional, Dian banting stir ke road race, mengelola bisnis, dan melatih para crosser yang siap berlaga dan mengukir prestasi seperti dirinya. Menurut Dian, atlet Motocross selalu mengalami regenerasi, maka itu pria yang beberapa kali belajar balap motor di luar negeri, di antaranya di Jim Holley MX School, California, dan Donnie Hansen Motocross Academy (DHMA), Amerika Serikat ini menerima tawaran beberapa rekanannya yang meminta Dian untuk mengajar.

Setelah menyiapkan sirkuit, mekanik, hingga mes atlet, 2006 lalu IAMA pun didirikan. Di sini, calon crosser diberi bekal agar bisa merintis karier sebagai crosser profesional. Para murid IAMA diajarkan mulai dari teknik dasar mengendarai motor, menjaga stamina, posisi badan (riding position), menghadapi track lurus, tinkungan, hingga membuka gas.

Agar latihan bisa fokus, dan prestasi pun bisa diraih, Dian membatasi murid-murid yang ingin belajar di sekolahnya. “Mes di sini kan terbatas, sirkuit juga tidak terlalu besar, maka agar lebih fokus prestasi, kami membatasinya,” ujar Dian ketika ditemui di IAMA beberapa waktu lalu.

Pria kelahiran Yogyakarta, 20 September 1977 ini mengatakan bahwa efektifnya, ia hanya melatih 4-5 crosser. Agar lebih maksimal, Dian mengatakan bahwa untuk menjadi seorang crosser profesional sebaiknya dimulai sejak usia enam tahun. 

“Stamina juga harus bagus, pola hidup juga harus disiplin,” tegasnya.

Pria yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi pembalap ini berujar kalau sudah di sirkuit, seorang pembalap itu harus fokus. Semakin tinggi teknik yang digunakan, maka stamina pun semakin terkuras. Sebagai pembalap profesional yang telah menghasilkan banyak prestasi, Dian juga menyayangkan pihak pemerintah yang kurang memperhatikan kemajuan dunia otomotif, khususnya balap motor. Menurutnya peminat balap motor cukup banyak, dan membangun sebuah sirkuit dengan standart internasional merupakan investasi yang bagus, 

“Karena akan menjadi aset yang besar, di antaranya bisa mengundang turis, dan menjadi sorotan dunia,” jelasnya.

Berdasarkan beberapa pengalamannya ke luar negeri, Dian menyayangkan bahwa Indonesia yang memiliki aset wisata yang begitu besar, namun tidak memiliki sirkuit berkualitas dunia. 

“Coba kita lihat Malaysia, di sana tidak ada pembalap yang berprestasi menonjol, namun pemerintahnya mau membangun sirkuit Sepang, yang kini jadi sorotan dunia,” tegas Dian.

Di Yogyakarta khususnya, belum ada sirkuit permanen untuk motocross, padahal menurut Dian, untuk membuatnya sangat murah, yaitu cukup menyediakan tanah yang luas, membentuk gundukan-gundukan untuk jumping, dan ada sumber air.

Namun begitu, dengan sirkuit milik pribadi yang sudah memenuhi standar untuk berlatih, pria tiga anak ini tetap semangat melatih murid-muridnya untuk mengukir prestasi dan membawa nama Indonesia di dunia internasional. (Riezky Andhika Prada
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More